Minggu, 19 Juni 2011

Perbedaan Otak Pria dan Wanita

Dalam tulisan pada jurnal “Cerebral Cortex” para peneliti memperlihatkan bahwa area otak yang dinamakan ” Inferior Parietal Lobule (IPL) ” pada pria umumnya lebih besar dibandingkan pada wanita. Area tersebut merupakan bagian dari cerebral cortex dan terdapat di kedua sisi otak diatas kuping. Psikiater Godfrey Pearlson, M.D., yang memimpin studi tersebut, menyatakan bahwa IPL dikedua sisi tersebut tidak simetris. Pada pria IPL disebelah kiri lebih besar dibandingkan dengan disebelah kanan. Sedangkan pada wanita IPL disebelah kanan lebih besar dibandingkan dengan IPL disebelah kiri. Pada pria perbedaan sosok antara IPL kiri dan kanan tidak terlihat dengan jelas. Para peneliti juga mengamati bahwa IPL sebelah kiri pada otak postmortem dari seorang ahli fisika dan ahli matematika adalah lebih besar dari rata-rata milik orang biasa.
Dalam studi ini, para peneliti melakukan MRI-scan pada otak dari 15 pasang pria dan wanita. Mereka menggunakan perangkat lunak komputer Universitas Hopkins yang dirancang ahli psikiatris Patrick Barta, M.D., Ph.D. untuk membandingkan seluruh volume IPL berdasarkan gender. Dengan perangkat lunak tersebut para peneliti dapat menghitung dan membandingkan volume IPL sebelah kiri dan sebelah kanan. Dari perhitungan tersebut diperoleh bahwa pria memiliki jaringan IPL 6% lebih banyak dibandingkan yang dimiliki oleh wanita. Menurut Pearlson inferior parietal lobule pada manusia jauh lebih berkembang dibandingkan pada binatang. Hal ini memberikan peluang bagi otak untuk memproses informasi dari indera penglihatan dan indera peraba, dan memungkinkan bagi otak untuk berpikir secara cepat terutama yang berkaitan dengan cara merumuskan persepsi dan perhatian.
IPL sebelah kanan erat hubungannya dengan kinerja memori atas keterkaitan antar ruang, kemampuan untuk mengartikan keterkaitan antara bagian tubuh dan kesadaran yang mempengaruhi perasaan seseorang . Pearlson mengatakan bahwa IPL sebelah kiri lebih terlibat dalam persepsi, seperti menilai atau memperkirakan berapa cepat benda bergerak, memperkirakan waktu dan mempunyai kemampuan melihat gambar tiga dimensi. Menurut Pearlson perbedaan kinerja IPL kiri dan IPL kanan memberikan penyederhanaan mengapa seseorang ahli dalam bidang fisika dan matematika , sementara yang lainnya lebih ahli dalam bidang bahasa. Dalam penelitian terdahulu, Pearlson memperlihatkan bahwa dua area terpenting di otak , yakni frontal dan temporal lobe, yang dimiliki oleh wanita adalah lebih besar. Mungkin hal ini yang dapat menjelaskan mengapa wanita lebih ahli dalam menguasai bahasa.
Otak pria sangat tersistematis, dengan kemampuan yang tinggi untuk mengelompokkan segala sesuatu, kemampuan yang rendah untuk multitasking, kemampuan yang tinggi untuk mengontrol emosi, orientasi hubungan (relasional) yang rendah, orientasi kerja yang tinggi, kemampuan yang tinggi untuk “mengasingkan diri”, kecenderungan untuk bertindak lebih dulu baru berpikir kemudian jika mengalami stress, respon yang agresif terhadap resiko, dan kecenderungan untuk berkompetisi dengan para pria lain.
Otak wanita mempunyai tingkat empati yang tinggi, kemampuan yang rendah untuk menggolong-golongkan, kemampuan yang tinggi untuk multitasking, kemampuan yang rendah untuk mengontrol emosi, mempunyai orientasi hubungan (relasional), orientasi kerja yang rendah, kemampuan yang rendah untuk “mengasingkan diri”, kecenderungan untuk berpikir dan merasa terlebih dahulu sebelum bertindak dalam meresponi stress, respon yang berhati-hati terhadap resiko, dan kecenderungan untuk bekerja sama dengan para wanita lain.


Senin, 13 Juni 2011

Saran untuk Mata Kuliah Teknik Komunikasi dan Tugasnya

Menurut saya, matkul Teknik Komunikasi adalah sebuah matkul yang mengasyikkan dan paling santai di antara semua matkul yang pernah saya ikuti dan saya dapatkan. Selain tak ada ujian yang materinya membebankan, tekom juga dapat menjadi sebuah matkul yang mengajak kita untuk bisa berorganisasi, mengajarkan kita kekompakan, dan pentingnya mengatur waktu baik itu saat di lapangan maupun dengan deadline waktu tugas yang telah dibuat.
Saran saya untuk mata kuliah tekom adalah untuk pemberian tugas disesuaikan dengan pemberian materi. Menurut Saya, lebih baik tugas diberikan agak akhir setelah materi-materi yang mendukung pembuatan tugas dijelaskan. Hal ini dapat digunakan sebagai sarana untuk mengantisipasi penunda-nundaan pembuatan tugas, seperti yang dialami kelompok saya. Sehingga semuanya baru dibicarakan saat akhir mendekati deadline pengumpulan tugas-tugas. Karena, menurut saya jika tugas diberikan di akhir, semangat serta keintensifan pendiskusian tugas dapat lebih ditingkatkan seiring dengan semakin dekatnya deadline.

Warna-Warni Kelompok Lima Tekom


Kelompok Lima...

Kelompok yang bisa dibilang kompak dan penuh varisasi karena terdapat beragam karakteristik individu di kelompok ini. Dengan jumlah anggota 9 orang yang terdiri dari 5 cowok dan 4 cewek menjadikan kelompok ini ramai dan ribet saat pembuatan tugas. Tak hanya saat melaksanakan tugas di lapangan seperti survei lapangan dan syuting film, tetapi juga saat melakukan diskusi. Kelompok ini mengambil tema yang paling berbeda dari kelompok lain dan satu-satunya kelompok yang mengambil tema Bencana Alam di Indonesia di kelas A. Terkadang saat kami mengalami kesulitan, kami berpikir, inilah deritanya mengambil tema tentang bencana, makanya banyak terjadi bencana pula di kelompok kami.hahahaha.
Salah satu kejadian yang membuat saya terkejut, sedih, dan tertawa geli saat saya mengingatnya adalah saat kami melakukan syuting pembuatan film di kawasan Semarang Bawah, tepatnya di dekat Stasiun Tawang. Keadaan berbeda 180 derajat terjadi saat kami melakukan survei lapangan mencari daerah banjir di Semarang dan saat kami melakukan syuting kurang lebih 3 minggu kemudian. Saat survei, kami banyak menemukan daerah-daerah banjir di Semarang Bawah, begitu juga di daerah ini. Namun, saat kami kembali untuk bersyuting, daerah ini menjadi kering kerontang tak ada air di sepanjang jalannya. Kami pun menjadi gelagap dan bingung, mau kemanakah mencari daerah banjir. Tak hanya itu, banyak pula kejadian-kejadian di luar dugaan yang kami dapat selama melakukan syuting. Contoh lainnya adalah saat kami mencari daerah gundul akibat penebangan. Saat itu, kami telah memantapkan diri untuk mengambil lokasi di tempat tersebut, namun saat kami meminta ijin untuk menggunakan tempat sebagai tempat syuting, ijin tidak diberikan oleh pengelola dan akhirnya kami mencari tempat lain.
Untuk pembuatan film, kami telah melakukan syuting sebanyak 4x dan Alhamdulillah hingga tulisan ini ditulis, prosesnya sudah hampir selesai.
Cerita lain, dalam pembuatan poster. Untuk poster, mungkin kelompok kami lebih memasrahkannya pada seorang teman kami, sebut saja namanya Seno. Kami memilih dia sebagai penanggung jawab dan pembuat poster karena dia memiliki daya imajinasi yang tinggai (jangan geer kau, Sen..hihihi). Selain itu, dia juga suka menggambar dan hasil gambarannya pun juga bagus..
Dalam pembuatan blog. Untuk blog kami memiliki 2 orang penanggung jawab, yaitu Aan dan Ovi. Dua orang ini kami pilih karena saat pemilihan tidak ada yang mau dengan alasan tidak mengerti tentang blog-blogan. Namun, beda cerita dengan 2 orang ini. Mereka mau menerima dengan senang hati. Terdapat sedikit kendala dalam proses pembuatannya karena si Aan, PJ utama blog tidak punya laptop, sedangkan Ovi, asisten Aan tidak punya modem/hotspot sehingga agak susah untuk mengedit blog setiap saat.
Saya sendiri di Kelompok 5 menjadi PJ buku laporan bersama teman saya, Nisa. Terdapat pula kendala-kendala saat pembuatannya, seperti poster dan naskah film yang kurang siap. Sehingga baru H-1 sebelum hari H pengumpulan buku konsep baru terselesaikan.. dan satu jam sebelum pengumpulan baru di print. (jujur banget yyaa... :D )
Walapun berbagai rintangan terjadi...
Walaupun banyak suka duka terjadi...
Namun, dengan kekompakan, kami dapat lewati itu semua... :)

Jumat, 03 Juni 2011

Artikel Teknik Komunikasi

BENCANA ALAM DI INDONESIA
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teknik Komunikasi (TKP 158)





                 DISUSUN OLEH : 
NAMA  : ANNISA MUAWANAH S.
NIM      : 21040110130083




UNIVERSITAS DIPONEGORO
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
SEMARANG
2011












BENCANA ALAM DI INDONESIA

Secara geografis, Indonesia terletak pada jalur silang antara dua samudera (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik) dan dua benua (Benua Asia dan Benua Australia). Letak inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa di Indonesia rentan terjadi bencana alam. Selain itu, posisi silang ini juga mempengaruhi kondisi cuaca dan iklim di Indonesia. Benua dan samudera memiliki karakteristik iklim berlainan sehingga secara periodik dapat mempengaruhi keadaan cuaca dan iklim di Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa.
Cuaca dan iklim yang tidak menentu ini dapat menjadi salah satu penyebab mengapa di Indonesia memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Curah hujan yang tinggi dapat membawa dampak negatif bagi kehidupan penduduk di Indonesia, seperti banjir, rob, dan pergerakan tanah yang dapat menyebabkan tanah longsor.
Banjir yang terjadi di Indonesia lebih disebabkan oleh perilaku manusia itu sendiri, seperti akibat dari penggundulan hutan di kawasan resapan air dan kawasan lindung, penyumbatan aliran air akibat sampah atau limbah masyarakat, dan perubahan fungsi guna lahan. Banjir dapat dikatakan murni sebagai gejala alam jika kondisi alam memang mempengaruhi terjadinya banjir di suatu wilayah, seperti akibat hujan terus-menerus yang terjadi di daerah, misalnya pada daerah dataran rendah dan daerah cekungan.
Selain itu, banjir juga dapat disebabkan oleh keadaan tanah di suatu kawasan. Contohnya adalah Kota Semarang, khususnya daerah Semarang bawah.
“ Sedangkan penyebab banjir dan rob secara universal di Kota Semarang terbagi empat. Pertama, merebaknya pem­ba­ngunan di kawasan pe­la­buh­an dan kawasan wilayah ko­ta bawah. Pembangunan ini menyebabkan terjadinya pe­nurunan lahan setiap ta­hun­nya, yang berkisar 5 - 15 cm. Kedua, pengambilan air tanah yang berlebihan sehingga menyebabkan intrusi air laut di dalam tanah. Ketiga, struktur tanah di dae­rah pantai dan kawasan Se­marang bawah merupakan ta­nah aluvial dengan kadar lempung dan tanah lano yang cu­kup besar dengan kedalaman 40 - 100 meter. Se­hing­ga, tanah ini terus melakukan konsolidasi (pe­madatan) dan pemadatan ini baru akan ber­henti pada kedalaman 4 - 6 meter. Keempat, terjadinya pengerukan di daerah pelabuhan. ” (Robert, 2007).

Selain itu, galaknya pembangunan di kawasan Semarang atas yang awalnya adalah suatu kawasan lindung dan diubah menjadi kawasan terbangun juga dapat menjadi penyebab mengapa di Semarang bawah sering terjadi banjir saat musim penghujan tiba.

 
                                                          Sumber : ilarizky.blogspot.com
 
Peristiwa ini tentunya dapat memberi kerugian bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitar. Sebagai contoh, dapat mengakibatkan hilangnya harta benda dan dapat dimungkinkan pula munculnya korban jiwa jika banjir yang terjadi adalah banjir besar. Sedang dampaknya bagi lingkungan adalah hilangnya lapisan permukaan tanah yang subur karena tererosi oleh aliran air sehingga tanah menjadi susah untuk ditanami dan dapat pula mengakibatkan longsor.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam mengatasi banjir ini, di antaranya dengan memperbaiki kondisi drainase yang ada, memperdalam parit-parit atau sungai-sungai kecil di sekeliling rumah sebagai langkah antisipasi mencegah luapan air agar tidak menggenangi pemukiman, serta melakukan upaya reboisasi sebelum musim penghujan tiba.
Bencana alam lain yang sering melanda Indonesia adalah gempa bumi. Gempa bumi yang terjadi di Indonesia disebabkan karena terdapatnya lempengan dunia yang terletak di Pantai Barat Sumatera, selatan Pulau Jawa hingga Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara, utara Kepulauan Maluku, dan utara Papua. 

                                                 Sumber : http://id.istanto.net
 
Lempengan dunia ini terus bergerak dan bergesekan untuk mencari keseimbangan. Getaran akibat gempa ini dapat memicu terjadinya tanah longsor, rusaknya permukiman penduduk, dan dapat menimbulkan tsunami jika gempa ini terjadi di bawah laut.
Gempa bumi yang sering terjadi di Indonesia adalah proses alam yang tidak dapat dihindari. Namun, dengan semakin meningkatnya teknologi dan ilmu pengetahuan manusia, hal ini dapat diantisipasi dengan berbagai cara, misalnya dengan membangun bangunan yang tahan gempa di kawasan-kawasan yang sekiranya rawan terjadi gempa, membangun fasilitas-fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi, memperkuat bangunan-bangunan vital yang telah ada, melakukan zonasi daerah rawan gempa bumi, dan mengatur ulang penggunaan lahan. Selain itu, pengetahuan masing-masing individu akan antisipasi yang baik dan cara menyelamatkan diri saat gempa terjadi juga sangat dibutuhkan. Diperlukan pula peran pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam upaya memberi pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya gempa bumi dan cara-cara penyelamatan diri yang tepat saat terjadi gempa bumi.
Kita sebagai manusia dikaruniai oleh Tuhan akal dan pikiran untuk dapat mengenali dan mengantisipasi kejadian-kejadian alam yang terjadi. Dengan didukung teknologi canggih, pengetahuan tinggi, dan sumber daya manusia yang memadai diharapkan dampak-dampak negatif, seperti jatuhnya korban jiwa dan kerusakan serta kehilangan harta benda dapat diminimalkan. Selain itu, perlu pula campur tangan pemerintah dalam upaya mengantisipasi dan menanggulangi kemungkinan bahaya dan akibat yang dimunculkan dari berbagai bencana alam di Indonesia ini, sehingga dampak-dampak negatif yang dimunculkan dapat diminimalkan.


                 http://www.wawasandigital.com
                 http://www.riedhagookil.com