Kamis, 26 Januari 2012

Jenis-Jenis Daerah Semi Urban

Menurut Alain Garnier (1984) perkembangan urbanisasi yang tidak merata akan menciptakan keberagaman ruang. Berubahnya ruang pedesaan menjadi perkotaan dapat ditemukan dalam tipologi yang hampir mirip, dikelompokkan menjadi beberapa daerah yang meliputi :


a.    Sub Urban
        Merupakan daerah pinggiran kota yang terekspansi karena pemekaran kota. Pemekaran kota tersebut dikarenakan oleh munculnya jaringan-jaringan jalan yang mempermudah transportasi dan mobilisasi. Daerah-daerah sub urban masih tergantung dari kota induk. Terdapat suatu fenomena urban sprawl (pemencaran ruang) di daerah-daerah sub urban. Permasalahan yang dapat ditimbulkan akibat munculnya daerah sub urban adalah perubahan sektor pertanian yang tidak menguntungkan sehingga dapat menyebabkan munculnya permasalahan lingkungan fisik (karena berubahnya lahan pertanian menjadi lahan terbangun), dan transportasi.


b.     Peri Urban
        Merupakan perkembangan kegiatan perkotaan diakibatkan oleh infiltrasi penduduk kota ke daerah pedesaan yang jauh dari kota. Jadi, singkatnya peri urban merupakan daerah yang mengalami proses urbanisasi yang jauh dari kota. Daerah peri urban juga masih tergantung dari kota induk. Hanya, tumbuhnya aglomerasi daerah-daerah peri urban ini terjadi di tengah pedesaan yang bukan merupakan proses perubahan penduduk desa. Daerah-daerah peri urban dapat ditemukan pada kota-kota tambang dan pariwisata. Dampak positif yang diberikan dari keberadaan peri urban ini adalah menciptakan lapangan kerja bagi penduduk, karena umumnya daerah sub-urban ini banyak bergerak di bidang jasa. Sedangkan dampak negatif yang dapat dimunculkan adalah kerugian penduduk lokal daerah setempat. Hal ini dikarenakan banyaknya lahan yang telah beralih fungsi untuk kegiatan pelayanan jasa tersebut dan digunakan untuk kegiatan non-agraris lainnya.


c.    Rural Urban
        Merupakan proses perubahan masyarakat desa di daerah pedalaman karena surplus agraris atau perkembangan potensi lokal yang menciptakan perubahan masyarakat pedesaan, misal di bidang perdagangan. Jadi, dari aktivitas perdagangan yang dilakukan dengan desa-desa lain, akan terbentuk hubungan perdagangan yang akan memunculkan suatu sub simpul perkotaan sebagai jaringan pedesaan. Proses ini pada akhirnya akan menciptakan ruang-ruang terbangun yang padat dengan kegiatan masyarakat yang heterogen. Aktivitas yang berupa non-agraris yang heterogen dan bersifat kekotaan merupakan sistem rural urban yang menyatu antara kegiatan pedesaan dan perkotaan.






Sumber : 

Sugiono, Soetomo. 2009. Urbanisasi dan Morfologi: Proses Perkembangan Peradaban dan Wadah Ruang Fisiknya. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar