Minggu, 23 Oktober 2011

Interpretasi Citra Penginderaan Jauh

Berikut ini adalah terdapat pengertian Interpretasi Citra menurut beberapa ahli,  :
  • Penginderaan jauh merupakan suatu ilmu, karena terdapat suatu sistematika tertentu untuk dapat menganalisis informasi dari permukaan bumi, dimana ilmu ini harus dikoordinasi dengan beberapa pakar ilmu lain seperti ilmu geologi, tanah, perkotaan dan lain sebagainya. (Everett Dan Simonett, 1976)
  • Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu penggunaan sensor radiasi elektromagnetik untuk merekam gambar lingkungan bumi yang dapat diinterpretasikan sehingga menghasilkan informasi yang berguna (Curran,1985).
  • Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu suatu pengukuran atau perolehan datapada objek di permukaan bumi dari satelit atau instrumen lain di atas jauh dari objekyang diindera (Colwell, 1984).
  • Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu ilmu untuk mendapatkan informasi mengenai permukaan bumi seperti lahan dan air dari citra yang diperoleh dari jarakjauh (Campbell, 1987).
  • Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah, atau fenomena yang dikaji. (Lillesand & Kiefer, 1994)
Interpretasi citra secara manual
Dalam kegiatan interpetasi citra secara manual, dibutuhkan kegiatan identifikasi citra. Pengenalan identitas dan jenis objek yang ada pada citra merupakan unsur pokok dari kegiatan interpretasi citra. Karakteristik obyek yang tergambar pada citra dikenali menggunakan 8 unsur interpretasi yaitu :
  • Rona atau warna, Rona adalah tingkat kegelapan atau kecerahan obyek pada citra atau tingkatan dari hitam ke putih dan sebaliknya. Rona mencerminkan karakteristik spektral citra sesuai dengan panjang gelombang elektromagnetik yang digunakan oleh citra. Warna adalah wujud yang oleh mata yang meenunjukkkan tingkat kegelapan dan keragaman warna dari kombinasi saluran/band citra, yaitu warna dasar biru, hijau dan merah dan kombinasi warna dasar seperti kuning, jingga, nila, ungu dan warna lainnya. Pembedaan citra menggunakan warna lebih mudah untuk dikenali daripada pembedaan rona.
  • Bentuk, adalah variabel kualitatif yang memberikan konfigurasi atau kerangka suatu obyek, misal : persegi, membulat, memanjang, dan bentuk lainnya. Conth kenampakannya adalah citra pohon kelapa berbentuk bintang, pohon pinus atau cemara berbentuk kerucut, dan bangunan yang memiliki bentuk teratur tampak seperti huruf I, L ,atau U.
  • Ukuran, merupakan atribut obyek yang berupa jarak, luas, tinggi, lereng dan volume. Ukuran tergantung pada skala dan resolusi citra.
  • Tekstur, adalah frekuensi perubahan rona pada citra. Tekstur sering dinyatakan dalam wujud kasar, halus, atau bercak-bercak. Misalnya adalah kebun memiliki tekstur sedang, rumput bertekstur halus, air bergelombang bertekstur kasar.
  • Pola, merupakan ciri obyek buatan manusia dan beberapa obyek alamiah yang membentuk susunan keruangan. Pola permukiman pedesaan biasanya pola tidak teratur, namun ada hal yang dapat digunakan sebgai acuan seperti pola permukiman memanjang, sepanjang jalan atau sungai, permukiman menyebardan mengelompok di sekitar danau.
  • Bayangan, merupakan obyek yang tampak samr-samar atau tidak tampak sama sekali, sesuai dengan bentuk objeknya seperti bayangan awan, bayangan gedung, bayangan bukit.
  • Situs, merupakan hubungan antar obyek dalam satu lingkungan, yang dapat menunjukkan obyek disekitarnya atau letak suatu obyek terhadap obyek lain. Situs biasanya mencirikan suatu obyek secara tidak langsung.
  • Asosiasi, merupakan unsur antar obyek yang keterkaitan atau antara obyek yang satu dengan yang lain, sehingga berdasarkan asosiasi tersebut dapat membentuk suatu fungsi obyek tertentu.
Terdapat tiga rangkaian kegiatan utama dalam interpretasi citra, yaitu :
  1. Deteksi, adalah pengamatan objek citra yang bersifat keseluruhan.
  2. Identifikasi, adalah pengamatan objek citra yang bersifat agak rinci yaitu dengan mencirikan objek yang telah dideteksi dengan keterangan yang cukup.
  3. Analisis, adalah pengamatan objek citra yang bersifat rinci yaitu dengan pengumpulan keterangan lebih lanjut.
Interpretasi citra secara digital
Kegiatan interpretasi secara digital dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer. Dilakukan mulai dari pengolahan (koreksi citra), penajaman citra, hingga klasifikasi citra. Tujuan pengenalan pola secara teknik untuk mengklasifikasikan dan mendeskripsikan pola atau susunan obyek melalui sifat atau ciri obyek, berdasarkan karakteristik spektral yang terekam pada citra. Klasifikasi citra secara digital bertujuan untuk melakukan kategorisasi secara otomatik dari semua pixel citra kedalam kelas penutup lahan atau suatu tema tertentu.
Pengolahan citra penginderaan jauh satelit secara digital dikelompokkan menjadi lima, yaitu :
  1. Pra pengolahan atau pengolahan awal, terdiri dari kegiatan koreksi radiometrik dan geometrik citra agar kesalahan nilai digital pixel dan kesalahan posisi geometrik tiap pixel dapat diminimalisir.
  2. Rekonstruksi citra, yaitu perbaikan kualitas citra karena adanya gangguan pada nilai digital citra yang seharusnya.
  3. Penajaman citra, untuk meningkatkan mutu citra agar dapat digunakan pada tahap selanjutnya.
  4. Klasifikasi objek, yaitu mendeteksi kelas atau jenis objek pada citra yang berbeda. Dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu klasifikasi terbimbing (dengan pemilihan kategori informasi yang diinginkan dan memilih data training area untuk tiap kategori penutup lahan yang mewakili sebagi kunci interpretasi. Digunakan data penginderaan jauh multispektral yang berbasis numerik, maka pengenalan polanya merupakan proses otomatik dengan bantuan komputer) dan klasifikasi tidak terbimbing (mengggunakan algoritma untuk mengkaji atau menganalisis sejumlah besar pixel yang tidak dikenal dan membaginya dalam sejumlah kelas berdasarkan pengelompokan nilai digital citra).
  5. Prediksi fenomena geobiofisik, berguna untuk memperkirakan sifat geobiofisik suatu objek pada citra penginderaan jauh melalui permodelan.
Macam-Macam Koreksi Pada Kegiatan Interpretasi Citra
 Koreksi Radiometrik
Koreksi radiometrik adalah pembetulan citra akibat kesalahan radiometrik yaitu kesalahan yang berupa pergeseran nilai atau derajat keabuan elemen gambar/nilai pixel pad citra yang disebabkan oleh kesalahan pada nilai sistem optik karena gangguan radiasi elektromagnetik pada admosfer atau karena sudut elevasi matahari.

Koreksi Geometrik
Koreksi geometrik adalah pembetulan posisi citra akibat kesalahan geometrik. Kesalahan geometrik internal disebabkan oleh konfigurasi sensornya dan kesalahan eksternal disebabkan oleh perubahan ketinggian, posisi, kecepatan wahana, gerak rotasi, dan kelengkungan bumi.
Koreksi geometrik itu sendiri memiliki tiga tujuan, yaitu untuk melakukan restorasi atau pembetulan citra agar koordinat citra sesuai dengan koordinat geografi, untuk mencocokkan posisi citra agar sesuai dengan citra lainn yang sudah terkoreksi, dan untuk meregistrasi citra ke peta sehingga menghasilkan citra dengan sistem proyeksi tertentu.







Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar